Studi Kasus di Amerika Serikat : Dampak Financial Precarity

Apa itu Financial Precarity

Kecemasan tentang hutang dan stabilitas keuangan dapat sangat mengurangi produktivitas dan kesehatan karyawan, yang dapat merugikan perusahaan. Perusahaan harus memberikan layanan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan finansial pekerja.

Tom tinggal di Freepoft, Pennsylvania. Dia berusia 52 tahun dan telah bekerja sebagai pengemudi truk di perusahaan yang sama selama lebih dari 20 tahun. Dia menghasilkan uang lebih dari $60.000 per tahun, menikmati program pensiun yang disponsori perusahaan, dan memiliki asuransi kesehatan. Dia memiliki rumah dengan tiga kamar tidur di atas tanah seluas dua hektar, membantu menyekolahkan seorang putra, dan membantu putrinya, yang baru-baru ini mengalami perceraian yang sulit. Dari semua penampilannya, Tom telah mencapai kehidupan kelas menengah. Namun Tom sangat penasaran dengan situasi keuangannya. Dia berhutang S20,000 pada kartu kreditnya, sebagai hutang kedua, dan pada tahun lalu harus meminjam ke rekening pensiunnya.

Tom seperti banyak orang di Amerika Serikat yang bekerja penuh waktu dan cukup untuk membiayai hidup minimal, tetapi masih sangat khawatir tentang uang. Di sini tidak hanya berbicara tentang pekerja miskin, tetapi juga yang pendapatannya menempatkan di kelas menengah, tinggal di seluruh penjuru Amerika Serikat. Apakah karena upah yang tidak mencukupi, tabungan yang tidak memadai, nasib buruk, atau beberapa kombinasi dari faktor-faktor ini, tampaknya tidak dapat menyisihkan cukup uang untuk menutupi pengeluaran masa depan yang diharapkan, seperti pensiun atau biaya kebutuhan anak-anak. apalagi biaya tak terduga yang sepertinya meleset setiap bulan.

Menurut laporan tahun 2016 oleh Federal Reserve Board, kebanyakan orang di Amerika Serikat tidak dapat menghasilkan $400 untuk menutupi pengeluaran tak terduga tanpa bergantung pada pinjaman (yaitu, menggunakan kartu kredit atau sumber hutang lainnya). Rumah tangga, rata-rata, juga memiliki hutang kartu kredit hampir $17.000, dengan hampir separuhnya tidak mampu melunasi hutang ini dalam waktu dua tahun. Survei di Amerika Serikat menunjukkan bahwa, bagi orang Amerika, uang lebih sering menjadi sumber kekhawatiran daripada masalah pekerjaan, keluarga, atau kesehatan. Kondisi ini di sebut sebagai Financial Precarity.

Ada penelitian substansial tentang konsekuensi merugikan dari Financial Precarity bagi individu. Kekhawatiran yang terus-menerus tentang uang dikaitkan dengan kesehatan yang lebih buruk, tingkat kebahagiaan yang lebih rendah, dan peningkatan isolasi sosial. Financial Precarity juga memiliki efek pada fungsi kognitif orang dan kemampuan untuk membuat keputusan yang baik. Ini adalah kondisi buruk bagi individu yang, jika tidak ditangani, dapat memburuk seiring waktu. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa Financial Precarity juga memiliki konsekuensi yang signifikan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Diskusi tentang peran pengusaha dalam kesejahteraan finansial karyawannya sering dibingkai sebagai masalah moral. Ahli etika bisnis menasihati perusahaan untuk menjalankan “tanggung jawab sosial perusahaan” terhadap karyawan. Sebaliknya, pendekatan masalah dengan membingkainya sebagai pertanyaan ekonomi: Apakah pengusaha menerima keuntungan dari kesejahteraan finansial karyawannya? Temuan penelitian menunjukkan bahwa perusahaan akan mendapatkan dampak positif, Ketika biayanya dapat teratasi baik oleh karyawan tersebut maupun oleh perusahaan. Dalam hal ini, setiap orang berkepentingan untuk mengatasi Financial Precarity agar menjalani hidup yang lebih baik, buat dirinya dan perusahaan tempatnya bekerja.

Beberapa Penelitian Financial Precarity


Seorang professor (sebut saja sang professor) di University of Pittsburgh yang meneliti pekerjaan dan hubungan kerja, telah melakukan penelitian dengan ribuan karyawan di berbagai kelompok pekerjaan dan strata sosial ekonomi untuk memeriksa bagaimana Financial Precarity mempengaruhinya di tempat kerja. Studi-studi ini secara konsisten menunjukkan bahwa ketika karyawan menjadi lebih khawatir tentang situasi keuangannya, kinerja goyah, dengan konsekuensi bisnis proses di perusahaan tidak optimal. Hubungan negatif antara Financial Precarity dan kinerja dijelaskan oleh fakta sederhana bahwa karyawan menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja, dan Financial Precarity menghambat kemampuannya untuk menjadi produktif. Penelitian lain misalnya, PricewaterhouseCoopers menemukan bahwa lebih dari separuh karyawan yang disurvei melaporkan mengalami stres tentang keuangan di tempat kerja. Mercer juga menemukan bahwa orang, rata-rata, menghabiskan sekitar 150 jam per tahun untuk memikirkan keuangannya saat bekerja, yang berarti sekitar tiga minggu waktu kerja yang terganggu setiap tahun.

Penelitian yang muncul dalam psikologi menunjukkan bahwa Financial Precarity dapat menimbulkan pengaruh kognitif bagi yang mengalaminya. Satu studi, misalnya, menemukan bahwa para petani memiliki kinerja yang lebih buruk pada serangkaian tes kognitif ketika mengalami Financial Precarity, dibandingkan dengan setelah situasi keuangannya membaik.

Studi lanjutan sang professor terkait hal ini, bekerja sama dengan perusahaan transportasi untuk memeriksa apakah Financial Precarity di antara pengemudi truk mempengaruhi kemungkinan mengalami kecelakaan. Meskipun hanya memiliki pendidikan sekolah menengah, sebagian besar pekerja ini memperoleh pendapatan yang menempatkannya di atas median untuk rumah tangga di Amerika Serikat. Dengan demikian, mewakili “kelas menengah” di Amerika, dengan harapan Financial Precarity tidak mempengaruhi orang secara luas.

Untuk menyelidiki hubungan antara keuangan pengemudi dan tingkat kecelakaan, dilakukan pengumpulan data studi lebih dari 1.000 pengemudi truk jarak jauh dan mencocokkannya dengan catatan kecelakaan selama delapan bulan berikutnya. Analisis data mengungkapkan bahwa terlepas dari pendapatan kelas menengah, keuangan pribadi merupakan sumber kesulitan yang lebih sering dan paling banyak terjadi daripada masalah kesehatan atau keluarga. Konsisten dengan prediksi ini, ditemukan bahwa pengemudi yang mengkhawatirkan keuangannya lebih mungkin mengalami kecelakaan dalam delapan bulan berikutnya. Tren ini disebabkan oleh pengaruh kognitif yang terkait dengan Financial Precarity. Kekhawatiran tentang uang membuat pengemudi kurang memperhatikan pekerjaan. Berdasarkan biaya rata-rata kecelakaan truk komersial, diperkirakan bahwa Financial Precarity pengemudi dikaitkan dengan setidaknya $1,3 juta per tahun dalam biaya tambahan untuk perusahaan.

Selanjutnya, sang professor juga telah memeriksa konsekuensi dari Financial Precarity di antara pekerja yang merasa lebih kesulitan keuangan karena upah dan tunjangan yang kecil. Obyek dalam penelitian ini adalah asisten perawat bersertifikat yang memberikan perawatan kepada lansia lemah. Dalam pekerjaan ini, empati dengan klien penting untuk keseluruhan kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien. Seperti halnya para pengemudi truk, kondisi keuangan yang tidak menentu membuat kinerja menurun. Secara keseluruhan, empati di antara para perawat adalah prediktor signifikan keselamatan pasien. Tetapi perawat yang mengalami lebih banyak kesulitan keuangan cenderung tidak memperhatikan ancaman terhadap keselamatan pasien, meskipun tingkat empatinya tinggi. Bukan karena kurang termotivasi, kurang peduli dengan pasien, atau kurang terampil dalam melakukan pekerjaan. Sebaliknya, pengaruh pada kognitif yang dikenakan oleh kekhawatiran keuangan yang terus-menerus menghalangi kinerja pekerjaan mereka, karena keasyikan mereka dengan masalah keuangan membahayakan kemampuannya untuk memperhatikan pasien secara optimal.

Sang professor menemukan efek serupa bahkan di antara kaum muda yang bersiap memasuki dunia kerja. Di sisi lain Pendidikan perguruan tinggi dianggap sebagai kendaraan utama untuk mobilitas ekonomi di Amerika Serikat, pendidikan perguruan tinggi menjadi semakin mahal. Uang sekolah dalam negeri dan biaya di lembaga publik empat tahun hampir dua kali lipat sejak 1995. Total anggaran siswa (termasuk perumahan, makanan, buku, transportasi, dan pengeluaran lainnya), rata-rata, melebihi bantuan keuangan siswa sebesar $ 12,000 per tahun di empat tahun lembaga publik dan hampir S20,000 per tahun di empat tahun lembaga nirlaba swasta. Hal ini menyebabkan banyak siswa berjuang untuk memenuhi kebutuhan keuangan dasar, bahkan Ketika sudah menerima bantuan keuangan. Mengingat meningkatnya biaya di perguruan tinggi, sang professor melihat ada Financial Precarity yang cukup besar dalam populasi ini, di mana dampak kognitif yang terkait dapat mengurangi kemampuan siswa untuk fokus di kelas.

Untuk menyelidiki hubungan antara Financial Precarity mahasiswa dan nilai akademiknya, dilakukan survei terhadap sekelompok mahasiswa tahun pertama yang masuk di sebuah universitas negeri besar. Pengumpulan data survei dari siswa yang berpartisipasi, informasi tentang nilai, kinerja akademik semester pertama, dan beberapa faktor lainnya yang telah terbukti menjadi prediksi keberhasilan akademik siswa, seperti demografi, waktu yang dihabiskan di kelas, dan latar belakang sosial ekonomi. Hasil survei diketahui bahwa siswa yang melaporkan tidak memiliki masalah keuangan pada awal semester menunjukkan potensi seperti yang ditunjukkan oleh hubungan yang kuat antara nilai satuan pendidikan dan nilai rata-rata semester pertama (IPK). Namun, di antara siswa yang mengaku memiliki kekhawatiran yang signifikan tentang memenuhi kewajiban keuangan di perguruan tinggi, hubungan positif yang diharapkan antara nilai satuan pendidikan dan IPK tidak terjadi. Dengan demikian, siswa yang khawatir tentang membayar untuk kuliah cenderung tidak menyadari potensi akademiknya.

Ketika digabungkan, temuan-temuan penelitian tersebut menggambarkan bagaimana organisasi memiliki kepentingan dalam menjaga kesehatan keuangan karyawan. Secara konsisten ditemukan bahwa Financial Precarity melemahkan kemampuan orang untuk melakukan berbagai tugas. Ketika orang khawatir tentang keuangannya, akan menghalangi kemampuannya untuk menjadi produktif dan berkinerja. Financial Precarity juga telah dikaitkan dengan berbagai penyakit dan kondisi kesehatan, yang selanjutnya dapat menurunkan produktivitas dan memerlukan tambahan biaya.

Kondisi di Amerika Serikat


Banyak pengamat menyalahkan pilihan individu bahwa orang melebih-lebihkan pendapatan masa depan dan meremehkan pengeluaran masa depan, membuatnya menghabiskan terlalu banyak uang di masa sekarang, diantaranya dalam bentuk pinjaman. Akibatnya, perusahaan berinvestasi dalam literasi keuangan, mendidik karyawan tentang cara mengelola pengeluaran dan investasi dengan lebih baik. Asumsi yang mendasari adalah bahwa jika karyawan paham cara memandang dan mengelola keuangan, karyawan tidak akan begitu rentan terhadap Financial Precarity.

Pendekatan ini, bagaimanapun, sebagian besar tidak efektif dalam mencapai pengurangan jangka panjang dalam Financial Precarity, karena intervensi literasi keuangan tidak mengatasi sumber masalah. Kekurangan dalam pertahanan individu adalah faktor utama Financial Precarity meniadakan konteks kondisi ekonomi suatu wilayah.

Di Amerika Serikat, desain sistem sosial sangat bergantung pada kebijaksanaan pengusaha untuk menyediakan jaring pengaman sosial yang penting seperti asuransi kesehatan dan tabungan pensiun, serta tunjangan peningkatan kesejahteraan lainnya seperti pada saat sakit yang dibayar dan cuti berbayar. Dibandingkan dengan ekonomi maju lainnya, di mana manfaat sosial dikelola terutama oleh negara, di Amerika Serikat lebih memilih dilakukan secara mandiri daripada melalui keterlibatan pemerintah. Memang, lebih dari separuh populasi yang diasuransikan di Amerika Serikat bergantung pada cakupan perawatan kesehatan dari majikannya, dibandingkan dengan 36 persen yang ditanggung melalui Medicare atau Medicaid.

Amerika Serikat memimpin Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menghitung persentase manfaat sosial yang didanai oleh perusahaan nirlaba dan LSM. Kebijakan publik AS juga mendukung kebijaksanaan pengusaha dalam hal tingkat dan jenis tunjangan yang menjadi hak pekerja. Amerika Serikat membuntuti negara-negara OECD dalam rasio upah minimum yang diamanatkan terhadap upah rata-rata pekerja penuh waktu. Ini juga satu-satunya negara maju di mana pekerja tidak dijamin saat sakit atau cuti berbayar.

Keterlibatan pemerintah yang terbatas dalam penyediaan dan pengaturan manfaat tidak secara inheren menghasilkan Financial Precarity yang meluas, walaupun kebijakan yang diterapkan tentu dapat mempengaruhinya.
Perkembangan-perkembangan ini menciptakan Financial Precarity meningkatkan ketidakpastian ke dalam kehidupan masyarakat karena individu diminta untuk menanggung lebih banyak risiko atas meningkatnya biaya perawatan kesehatan atau fluktuasi pasar keuangan di mana tabungan pensiun diinvestasikan.

Pendekatan Solusi


Mengingat biaya manusia dan ekonomi yang terkait dengan Financial Precarity yang meluas di Amerika Serikat, membalikkan tren saat ini tidak hanya untuk kepentingan orang-orang yang mengalaminya, tetapi juga menjadi perhatian para manajer dan pembuat kebijakan. Penurunan secara signifikan Financial Precarity dalam masyarakat akan membutuhkan perubahan dalam kebijakan sosial dan tenaga kerja, serta lebih banyak interaksi langsung dari pengusaha.

Lemahnya Financial Precarity di suatu wilayah, konsekuensinya mendorong peran pemerintah dalam memastikan keamanan keuangan untuk semua. Di bawah kebijakan, pemberi kerja diharapkan menjadi penyalur manfaat sosial seperti asuransi kesehatan dan tabungan pensiun bagi sebagian besar penduduk, yang menjadikan tunjangan ini sebagai komponen bebas dari paket kompensasi. Pada saat yang sama, pengusaha diberi banyak kebebasan dalam jenis manfaat yang mereka berikan dan sejauh mana mereka memilih untuk melakukannya. Untuk mengatasi kerawanan, mungkin sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali peran pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan finansial, setidaknya ada dua pendekatan.

Pendekatan pertama adalah memperluas asumsi langsung tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan manfaat sosial. Saat ini, investasi pemerintah AS dalam keamanan finansial cukup terbatas dibandingkan dengan negara maju lainnya. Faktanya, dari 35 negara OECD, Amerika Serikat menempati urutan ke-28 dalam pengeluaran pemerintah untuk penyakit, kecacatan, dan perlindungan cedera kerja; ke-34 dalam pengeluaran untuk program pasar tenaga kerja, termasuk tunjangan pengangguran dan program pelatihan dan ke-32 dalam pengeluaran untuk bantuan keluarga. Secara kolektif, data menunjukkan bahwa ada ruang yang cukup besar untuk meningkatkan keterlibatan pemerintah. Pendekatan ini mendapatkan daya tarik sehubungan dengan cakupan medis, dengan pengesahan Undang-Undang Perawatan Terjangkau dan seruan yang lebih baru oleh beberapa pejabat Partai Demokrat untuk memperluas Medicare.

Pendekatan kedua yang mungkin lebih menarik yang lebih menyukai keterlibatan pemerintah yang terbatas adalah dengan memberlakukan minimum yang diamanatkan. Artinya, alih-alih keterlibatan langsung dalam penyediaan tunjangan sosial, sistem berbasis majikan dapat tetap utuh, tetapi dengan pembuat kebijakan menetapkan upah minimum dan tunjangan yang harus diberikan oleh pemberi kerja. Upah minimum, dasar jaminan federal yang telah berlaku selama 80 tahun, adalah contoh paling terkenal dari minimum yang diamanatkan. Beberapa pemerintah negara bagian dan lokal juga telah memberlakukan peraturan mengenai jaring pengaman yang disediakan oleh pemberi kerja, seperti jaminan upah minimum yang layak dan cuti berbayar. Melalui peraturan ini, pemberi kerja masih menjadi pemberi manfaat utama, tetapi dengan ketentuan bahwa setiap orang yang dipekerjakan menerima kebutuhan minimum untuk memiliki tingkat keamanan finansial dasar. Pada dasarnya, pendekatan ini tidak mengarah pada perubahan besar-besaran dalam desain sistem sosial dan tenaga kerja, melainkan melindungi manfaat masyarakat dari kemerosotan ekonomi, siklus bisnis, dan tren ekonomi makro lainnya.

Pengusaha saat ini menempatkan tanggung jawab yang cukup besar untuk kesejahteraan keuangan masyarakat pada pengusaha. Meskipun ada bukti bahwa pada gilirannya telah mengalihkan sedikit tanggung jawab itu ke individu, pemberi kerja tetap berada pada posisi yang baik untuk membalikkan beberapa tren dalam Financial Precarity. Suatu penelitian menunjukkan bahwa melakukan hal itu dapat menghasilkan sesuatu yang besar, tetapi memerlukan evaluasi yang lebih dekat terhadap kualitas pekerjaan yang ditawarkan pengusaha kepada karyawan, dan apakah pekerjaan tersebut dapat memberikan standar hidup minimum yang sepadan dengan harapan ekonomi maju. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, 6,3 persen angkatan kerja berada dalam kemiskinan meskipun memiliki pekerjaan penuh waktu, sementara hampir sepertiga orang Amerika dianggap sebagai pekerja berupah rendah. Selain itu, pengusaha semakin merancang pekerjaan dengan cara yang dapat memperkenalkan ketidakpastian ke dalam keuangan pribadi karyawannya, seperti gaji yang layak dan jadwal yang berfluktuasi. Pengusaha yang ingin menuai keuntungan yang terkait dengan kesejahteraan finansial dalam tenaga kerja mereka dapat melakukannya dengan meningkatkan kompensasi minimum menjadi upah layak, memberikan stabilitas yang lebih dalam penjadwalan dan pembayaran, dan meningkatkan manfaat yang ditawarkan, seperti cakupan kesehatan yang dapat dikurangkan dan tabungan pensiun dengan kontribusi pemberi kerja.

Dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas pekerjaan, pengusaha dapat mengembangkan intervensi yang ditargetkan pada tantangan keuangan pribadi tertentu dalam tenaga kerjanya. Beberapa studi terbaru membahas bagaimana intervensi tertentu, yang ditujukan pada tindakan dan bukan hanya pendidikan, dapat efektif dalam mengurangi Financial Precarity.

Pengusaha memiliki peran sentral dalam kesejahteraan finansial masyarakat Amerika. Bukti kuat menunjukkan bahwa Financial Precarity tersebar luas di Amerika Serikat karena upah mengalami stagnasi, tunjangan berkurang, hutang meningkat, dan sebagian besar orang tidak mampu menabung secara memadai untuk keadaan darurat atau pensiun. Suatu penelitian menunjukkan “kasus bisnis” untuk perhatian pemberi kerja yang lebih besar terhadap keuangan pribadi pekerja dengan menghubungkan Financial Precarity dengan hasil ekonomi. Di beberapa penelitian, secara konsisten menemukan bahwa orang tidak meninggalkan masalah keuangannya di tempat kerja (atau sekolah), melainkan membawa ke tempat kerjanya, sehingga merugikan produktivitas dan kinerja pekerjaan. Selain produktivitas, penelitian lain telah menghubungkan Financial Precarity dengan masalah kesehatan, yang memiliki implikasi lebih lanjut untuk keuntungan pemberi kerja. Mengatasi kondisi ini membutuhkan upaya gabungan, termasuk pemerintah.

Dari perspektif kebijakan publik, perlu untuk mempertimbangkan tanggung jawab pemerintah dalam memastikan tingkat keamanan keuangan minimum dalam populasi. Pendekatan saat ini menempatkan manfaat sosial pada kebijaksanaan pengusaha, yang semakin mengalihkan tanggung jawab ke individu. Dari perspektif bisnis, pengusaha memiliki serangkaian alat untuk mengurangi Financial Precarity di antara para pekerja. Ini termasuk membayar upah layak dengan jam kerja normal dan manfaat yang terjangkau, mengadopsi integrasi yang berfokus pada masalah untuk mengatasi Financial Precarity yang dihadapi karyawan. Integrasi ini dapat efektif dalam mengurangi Financial Precarity sekaligus meningkatkan produktivitas dan kinerja organisasi.

Selain itu, komunitas filantropi telah dan dapat terus menjadi katalis untuk solusi. Misalnya, Commonwealth adalah sebuah LSM yang bekerja dengan industri mendorong pemberi kerja untuk menjadikan keamanan finansial pekerja sebagai tujuan tertentu, dan melakukan intervensi percontohan yang bertujuan untuk meningkatkan tabungan, membantu pekerja nontradisional, dan mengatasi tantangan ketidakpastian pendapatan. Center for Economic and Policy Research (CEPR) berupaya menginformasikan perubahan dalam kebijakan dan praktik dengan memberikan analisis yang cermat tentang tren ekonomi dan implikasi sosialnya bagi karyawan. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh co-director CEPR Eileen Appelbaum dan sosiolog Ruth Milkman menunjukkan manfaat yang signifikan dan biaya yang dapat diabaikan dari tawaran cuti sakit yang dibayar oleh majikan kepada karyawan. Ada juga banyak inisiatif ilmu perilaku yang memperkenalkan “dorongan” untuk membantu karyawan dan orang lain membuat keputusan keuangan yang lebih baik. Para filantropi juga mendukung integrasi yang ditujukan untuk mengatasi Financial Precarity. Inisiatif semacam itu menawarkan perubahan berbasis bukti yang dapat ditingkatkan oleh pengusaha dan pembuat kebijakan.

Meskipun perubahan penting yang telah diuraikan di sini bukanlah perbaikan cepat, implementasinya akan membuat menjadi lebih baik.