Pengusaha Memberikan KASBON, Tetapi Cara Pengertiannya Berbeda

53% perusahaan AS menawarkan program KASBON pada karyawannya saat ini dibandingkan dengan hanya 24% pada tahun 2015, hal ini menurut Laporan Tahunan pada 2019 oleh Bank of America. Temuan ini didasarkan pada survei nasional terhadap 996 karyawan dan 804
pengusaha yang berpartisipasi dalam program ini.

Karyawan yang mendapatkan KASBON mereka secara positif, lebih mungkin merasa bahwa mereka dapat mengelola keuangan sehari-hari mereka secara efektif, mereka dapat membayar tagihan sambil menabung untuk masa depan, dan tabungan pensiun mereka sesuai rencana, hal ini menurut temuan dari Bank of America.

Namun, cara atasan membantu karyawan mengelola keuangan mereka dan cara mereka mengukur keberhasilan upaya ini sangatlah bervariasi, hal ini menurut penelitian oleh Employee Benefit Research Institute (EBRI) di Washington, D.C.

“Pengusaha memiliki tujuan yang berbeda dalam hal pemberian KASBON pada karyawannya, dan hal ini seringkali tergantung pada industri dan demografi karyawan mereka,” kata Lori Lucas, presiden dan CEO EBRI. Misalnya, hutang pinjaman mahasiswa lebih sering disebut sebagai perhatian utama oleh responden dari sektor jasa profesional, ilmiah dan teknis, tetapi itu adalah perhatian yang lebih rendah bagi responden di industri perdagangan ritel.

Hampir 250 pembuat keputusan tunjangan di perusahaan dengan setidaknya 500 karyawan, menanggapi Survei Pendekatan Perusahaan EBRI untuk Solusi KASBON, yang dilakukan pada bulan Juni. “Empat inisiatif Perusahaan pemberi KASBON yang paling umum ditawarkan cukup tradisional,” kata Lucas. Antara lain:

  • Penggantian biaya kuliah (64 persen).
  • Pendidikan perencanaan keuangan (60 persen).
  • Program bantuan karyawan (55 persen).
  • Alat pengelolaan uang dasar (49 persen).

Pendekatan perusahaan lainnya untuk membantu karyawan mewujudkan kesejahteraan finansial bervariasi dalam hasil survei.

Pendekatan untuk Mengatasi Hutang Siswa


Di luar dasar-dasar kesehatan keuangan, pengusaha berfokus pada demografi tenaga kerja untuk mengidentifikasi cara-cara spesifik yang membuat pekerja tertekan secara finansial, dan kemudian menawarkan manfaat dan sumber daya yang memenuhi kebutuhan tersebut, hal ini temuan yang didapat oleh EBRI.

Pengusaha yang karyawannya berjuang dengan utang kuliah, menawarkan berbagai inisiatif bantuan pinjaman mahasiswa. “Kami … melihat semuanya mulai dari konseling pembayaran utang pinjaman untuk siswa, bantuan utang pinjaman siswa melalui kontribusi KASBON yang terkait dengan pembayaran pinjaman siswa karyawan, konsolidasi utang/layanan pembiayaan kembali dan lain-lain,” kata Lucas.

Dana Darurat


Untuk membantu karyawan yang membutuhkan uang tunai untuk membayar keadaan darurat, dana bantuan dan empati kepada karyawan tetap menjadi penawaran utama (sebesar 44 %), tetapi survei EBRI juga menemukan bahwa banyak perusahaan yang mencocokkan kontribusi ke rekening pribadi karyawan (sebesar 35%), menawarkan penggajian dimuka (sebesar 33%), dan pinjaman jangka pendek yang dapat dilunasi melalui pemotongan gaji (sebesar 24%).

Mengukur Keberhasilan


Cara utama yang digunakan pengusaha untuk mengukur keberhasilan inisiatif pemberian KASBON, menurut temuan EBRI, adalah:

  • Peningkatan kepuasan pekerja secara keseluruhan (37%).
  • Peningkatan penggunaan rencana pensiun yang ada (31%).
  • Mengurangi stres karyawan (31%).
  • Peningkatan retensi karyawan (28%).

Namun, ukuran keberhasilan berbeda menurut industri, hal ini dari hasil survei yang dihasilkan. Misalnya, responden di industri perawatan kesehatan menilai peningkatan kepuasan pekerja secara keseluruhan sebagai faktor utama dalam mengukur keberhasilan inisiatif pemberian KASBON, sementara pengurangan biaya perawatan kesehatan dan peningkatan rekrutmen karyawan mendapat skor tinggi sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan responden dalam layanan industri pendidikan.