Pengaruh Kondisi Kahar dalam Transformasi Digital di Perusahaan

Kondisi kahar adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan tidak dapat dihindarkan. Kondisi kahar dapat menyebabkan perubahan kondisi sangat drastis. Pengaruhnya dapat menjadi positif dan negatif terhadap penerapan Transformasi Digital.

Pendemi Covid-19 adalah contoh kondisi kahar. Tingkat persebaran Covid-19 lebih cepat disebabkan munculnya virus tersebut jelang tahun baru Lunar, pada saat lalu lintas penumpang lebih tinggi di Tiongkok. Sementara itu, masa inkubasi Covid-19 yang lebih panjang dengan gejala yang asymptotic. Dalam perkembangannya, Covid-19 meluas dengan cepat ke banyak negara di luar Tiongkok, termasuk Indonesia.

Pandemi Covid-19 menyebabkan masing-masing orang mulai membatasi interaksi, tidak berkelompok, belajar jarak jauh, lebih banyak menggunakan waktu di rumah dan mengurangi belanja secara langsung. Kondisi ini menyebabkan perusahaan-perusahaan juga mulai menyesuaikan proses bisnisnya, baik aktivitas bekerja atau bahkan core business perusahaan tersebut.

Perusahaan sudah mulai menerapkan bekerja dari rumah (work form home) dengan interaksi secara online menggunakan teknologi. Membuka rekening bank yang awalnya harus ke bank, sekarang dapat dilakukan melalui aplikasi. Toko yang sebelumnya hanya mempunyai gerai offline, sekarang sudah membuka toko secara online.

Beberapa contoh tersebut adalah perubahan atau inovasi yang terjadi melalui digitalisasi yang lebih modern dan merupakan pengaruh positif kondisi kahar dalam percepatan Transformasi Digital.

Kondisi kahar lain yang sempat terjadi di Indonesia adalah Tsunasmi Aceh, pada 26 Desember 2004. Bermula dari gempa beberapa kali, ombak setinggi kurang lebih 20 meter membuat beberapa kota di provinsi itu lumpuh. Kekuatan gempa yang terjadi berada di Samudra Hindia pada kedalaman sekitar 10 kilometer di dasar laut. Gempa yang berlangsung selama kurang lebih 10 menit ini tercatat mempunyai magnitudo sekitar 9,0. Setelah itu gelombang tsunami mulai memberikan dampaknya pada wilayah Aceh dan sebagian di Sumatera Utara.

Tsunami Aceh menyebabkan kondisi fisik Aceh hancur, termasuk infrastruktur teknologi di wilayah tersebut. Kondisi ini membawa pengaruh negatif terhadap Transformasi Digital. Kebutuhan dasar teknologi seperti jaringan listrik dan internet justru menjadi fokus pembangunan kembali, yang seharusnya sudah mulai bergeser ke kebutuhan inovasi teknologi yang lebih tinggi.

Pada prinsipnya, kondisi kahar dapat terjadi kapan saja. Setiap kondisi kahar akan membuat situasi berubah. Setiap perubahan dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap Transformasi Digital, tergantung seberapa besar dampak kondisi kahar dan seberapa pandai kita dapat “menangkap” peluangnya.