Disposable Income : Pengaruhnya Terhadap Konsumsi

Apa itu Disposable Income?

Semua penerimaan-penerimaan, baik yang diterima dalam hitungan per satuan waktu, yang diterima dalam bentuk komisi, ataupun bentuk-bentuk penerimaan tetap lain yang diperoleh secara periodik disebut sebagai pendapatan.

Pendapatan ini merupakan timbal balik dari aktivitas yang dilakukan seseorang atau suatu kondisi yang terjadi pada seseorang sehingga mendapatkan penerimaan tertentu. Pendapatan ini selanjutnya akan berfungsi menjadi kekuatan untuk bertransaksi, menjadi daya beli untuk berbagai kebutuhan.

Menurut Friedman dalam bukunya “A Theory of Consumtion Function”, pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income), dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen yang dimaksud adalah kestabilan konsumsi yang akan dijaga sepanjang hidup, dimana tingkat kekayaan dan pendapatan yang dibelanjakan sekarang dan kemudian adalah tetap.

Pendapatan permanen akan meningkat bila individu menilai kualitas dirinya (human wealth) makin baik, mampu bersaing dipasar. Pendapatan saat ini tidak selalu sama dengan pendapatan permanen. Kadang-kadang pendapatan saat ini lebih besar daripada pendapatan permanen. Kadang-kadang sebaliknya. Hal ini disebabkan adanya pendapatan tidak permanen, yang besarnya berubah-ubah. Pendapatan ini disebut pendapatan transitori (transitory income).

Dibalik pendapatan seseorang, ada kewajiban-kewajiban yang tidak dapat dihindari, pembayaran pajak dengan keragaman jenisnya. Keberadaan pajak yang harus dibayar tentu akan mengurangi kemampuan atau daya beli seseorang. Pendapatan yang diterima dan dikurangi dengan pajak inilah yang disebut sebagai disposable income, meskipun sejatinya konsep ini peruntukannya terkait pendapatan nasional suatu negara.

Pendapatan adalah keseluruhan penerimaan yang diterima, sedangkan disposable income adalah pendapatan setelah dikurangi pajak, lebih khusus pajak langsung. Sehingga pendapatan dapat dikatakan sebagai penerimaan yang belum siap untuk dikonsumsikan, karena ada pajak yang harus dibayarkan.

Disposable income yang dipahami sebagai hasil pengurangan pendapatan pribadi oleh pajak langsung sering diartikan juga dengan pengeluaran satu kali pakai atau sisa uang yang dimiliki dengan keragaman pemanfaatan, misalnya pembelian barang dan jasa, menabung, investasi, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, muncul penyesuaian-penyesuaian, disposable income tidak lagi hanya dipahami sebagai pendapatan setelah dikurangi pajak langsung, namun juga setelah dikurangi kewajiban-kewajiban rutin lain; bayar listrik, bayar air, bayar telepon dan jaringan wifi, termasuk juga bayar angsuran ataupun bayar sekolah dan kursus anak serta munculnya pajak tidak langsung.

Hal ini berarti semua kewajiban pembayaran yang harus dilakukan apapun bentuknya, sehingga setelah dikurangi itu semua akhirnya ditemukan nilai pendapatan setelah dikurangi keseluruhan pengeluran-pengeluaran yang sudah dilakukan disebut sebagai disposable income. Pendapatan inilah yang benar-benar siap untuk dikonsumsikan. Tentu saja setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dibayar, pendapatan jadi mengecil yang pada gilirannya menurunkan daya konsumsi, peluang untuk dapat menabung berkurang, kesempatan ber-investasi bisa juga berkurang dan lainnya.

Apa itu Konsumsi?


Menurut Wiliam, bahwa konsumsi secara umum adalah sebagai pengeluaran untuk penggunaan barang dan jasa yang secara langsung akan memenuhi kebutuhan manusia. “Barang” meliputi pembelanjaan rumah tangga untuk barang awet, seperti mobil dan alat-alat rumah tangga, dan barang tidak awet, seperti makanan dan pakaian. Sedangkan “jasa” meliputi barang-barang tidak kasat mata, seperti potong rambut dan layanan kesehatan. Pembelanjaan rumah tangga untuk pendidikan juga termasuk kedalam konsumsi jasa.

Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi masyarakat, antara lain kekayaan atau pendapatan masyarakat, ekspektasi (ramalan masa depan), jumlah penduduk, suku bunga, dan tingkat harga. Meskipun demikian, pada fungsi konsumsi hanya memperlihatkan hubungan antara variabel konsumsi dan variabel pendapatan nasional atau disposable income.

Menurut Dumairy, bahwa pola konsumsi dapat dikenali berdasarkan alokasi penggunaannya. Perbandingan besar pengeluaran perkapita penduduk kota terhadap penduduk perdesaan cenderung konstan tahun demi tahun. Pengeluaran rata-rata orang kota hampir selalu dua kali lipat pengeluaran orang desa. Perbandingan pola pengeluarannya juga demikian. Alokasi pengeluaran untuk makanan dikalangan orang desa lebih besar dibandingkan kalangan orang kota.

Terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi, diantaranya sebagai berikut:

a. Tingkat pendapatan dan kekayaan
b. Tingkat suku bunga dan spekulasi
c. Sikap berhemat
d. Budaya, gaya hidup (pamer, gengsi dan ikut arus) dan demonstration effect
e. Keadaan perekonomian

Hubungan Disposable Income dan Konsumsi


Teori konsumsi Keynes menjelaskan adanya hubungan antara pendapatan yang diterima saat ini (disposable income) dengan konsumsi yang dilakukan saat ini juga. Dengan kata lain pendapatan yang dimiliki dalam suatu waktu tertentu akan mempengaruhi konsumsi dalam waktu itu juga. Apabila pendapatan meningkat maka konsumsi yang dilakukan juga akan meningkat, begitu pula sebaliknya.

Namun, ada batasan konsumsi minimal yang tidak tergantung tingkat pendapatan. Artinya, tingkat konsumsi tersebut harus dipenuhi, walaupun tingkat pendapatan sama dengan nol. Itulah yang disebut konsumsi otonomus (autonomous consumtion). Jika disposable income meningkat, maka konsumsi juga akan meningkat. Hanya saja peningkatan tersebut tidak sebesar peningkatan disposable income.

Walaupun demikian, hubungan antara disposable income dengan konsumsi adalah hubungan yang searah (proposional). Disposable income yang lebih tinggi dapat menyebabkan pengeluaran konsumsi lebih besar dan demikian juga sebaliknya, jika disposable income rendah maka pengeluaran konsumsi juga rendah.