Berinovasi : Gagasan Besar Saja Tidak Cukup

Memiliki ide bagus hanyalah setengah dari perjalanan inovasi. Agar gagasan berhasil, hindari keempat mitos yang dituangkan pada tulisan ini. Mitos? Iya, mitos. Mitos memang belum tentu salah, belum tentu juga benar. Tapi mitos diyakini selama ini lebih berpeluang tidak akan terjadi dengan alasan dan logika yang masuk akal. Biasanya, mitos dapat terjadi hanya jika memenuhi syarat dan ketentuan yang sangat ketat dan tidak mudah atau bahkan tidak diketahui penyebab terjadinya.

Yuk renungkan! Mari kita mulai dengan ilustrasi.

Perbedaan antara kreativitas dan inovasi adalah eksekusi. Kreativitas menghasilkan ide-ide yang berharga dan baru, inovasi adalah keberhasilan mengimplementasikan ide-ide itu, mengubah konsep menjadi solusi yang sepenuhnya bisa diterapkan. Istilah inovasi memperkuat perbedaan dengan makna tersirat seperti “eksekusi,” “implementasi,” “peluncuran” atau “peningkatan” untuk menunjuk fase akhir dari proses penciptaan nilai. Berarti dalam inovasi ada ilustrasi atau gambaran sebuah tantangan. Bahwa saat memiliki ide yang unggul, selebihnya tinggal usaha untuk merealisasikannya.

Namun, tantangan terbesar untuk para inovator seringkali datang justru dari pertentangan internal tim sendiri atau orang-orang disekitarnya. Solusi sehebat apapun akan sia-sia tatkala berbenturan dengan paradigma inti dan keyakinan yang sudah ada, atau ketika tidak sesuai dengan model bisnis yang berlaku. Sementara itu pemikiran yang modern diperlukan untuk merancang model bisnis baru, untuk meningkatkan dukungan, mitra, dan pemangku kepentingan lainnya dengan cara baru, dan untuk menegosiasikan perlawanan atau sikap apatis yang bersekongkol dalam perusahaan.

Cerita perjalanan inovasi Eunice Kennedy Shriver dapat diambil hikmahnya. Adik perempuan John F. Kennedy itu memelopori Olimpiade Khusus dan mengubah sikap terhadap orang-orang disabilitas intelektual. Upaya inklusivitas perintis terungkap dalam catatan biografi, yang mengandung pelajaran besar. Benang merah yang dapat diambil dari catatan tersebut diantaranya, bahwa ada empat mitos yang dianggap sebagai kekeliruan inovasi kontemporer untuk diatasi oleh setiap inovator dalam menjembatani kesenjangan dari kreativitas ke inovasi yang sukses.

Jangan Menjadi ‘Maverick’ atau Bahkan Gila


Steve Jobs (sebut saja Jobs) adalah tokoh tersohor di dunia jagat raya, mewakili sebagian orang yang memang mempunyai peran cukup sensasional setelah ide atau penemuannya mempengaruhi kebutuhan publik dunia.

Jobs diadopsi orang lain sejak lahir, oleh pasangan Paul Jobs dan Clara. Jobs tahu fakta tersebut sejak kecil dan ia sangat mencintai orang tua angkatnya itu. Tertulis dalam biografinya, Jobs bahkan tidak mau menelusuri orang tua kandungnya sebelum orang tua angkatnya meninggal. Alasannya, Jobs tak mau melukai hati orang tua angkatnya.

Pada pengalaman awal kerjanya, Jobs dimasukkan ke shift malam karena tidak ada rekan kerja yang tahan dengan baunya. Jobs akrab dengan mariyuana sejak usia remaja, suatu kelakuan yang malah dibanggakannya. Jobs sama sekali bukan orang ramah dan sangat sering bertindak kasar pada orang terdekatnya. Dia tidak segan mengatakan ‘apa yang kau lakukan adalah sampah’ atau ‘kamu sangat bodoh’ pada karyawan Apple yang sudah bekerja sangat keras untuk membuat sebuah proyek. Ia juga sangat penuntut bahkan sampai usia dewasa, Jobs masih senang menangis jika keinginannya tidak dituruti.

Sedikit ilustrasi Jobs tersebut menggambarkan ada sisi yang tak biasa dalam kehidupan dan sosok dirinya.

Jobs memang jenius, seorang sosok yang dipuja banyak penggemarnya di seluruh dunia. Tetapi di balik itu semua, ternyata tingkah lakunya sungguh unik. Tumbuh menjadi sosok Maverick dan bahkan diantaranya menganggap setengah gila.

Apa itu Maverick?

Maverick adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang seringkali memiliki sudut pandang yang tidak biasa. Padahal jika pendapatnya sangat berbeda, sangat mungkin akan terjadi penolakan dari orang disekitarnya. Namun orang-orang yang berpikir kritis selalu mencari cara lain dalam melihat setiap masalah. Bisa jadi pada beberapa kesempatan, orang lain akan mendapatkan pandangan yang lebih baik, luas, dan jelas dengan memahami cara berpikir maverick.

Kadangkala pemikiran out of the box dapat membantu menemukan ide-ide baru. Namun ide-ide baru yang dianggap sebagai “pemberontak” atau “pembuat masalah” bukanlah cara untuk membuat ide akan didengar atau dianggap serius. Bahkan ujung-ujungnya justru akan dianggap sebagai “orang gila”. Ketidaksesuaian dengan kondisi dan cara pandang yang umum seharusnya tidak memicu reaksi alergi terhadap ide “aneh” atau pencetusnya yang “aneh”, yang akan membatasi ide. Hanya saja, kehati-hatian menyampaikan ide perlu dilakukan agar ide itu dapat ditoleransi oleh nilai-nilai yang ada dalam perusahaan dan orang-orang yang ada didalamnya. Karena dukungan orang-orang disekitarnya sangat diperlukan untuk membuat ide bisa diterima dan bahkan direalisasikan.

Jobs memang sukses, bahkan tidak hanya dia, ada tokoh-tokoh lain yang sempat dianggap gila, tetapi mengorbit menjadi sosok terkenal karena sumbangan ide atau gagasannya yang sangat brillian. Tapi perlu diingat, sosok-sosok gila ini hanya mewakili sebagian atau segelintir saja. Tidak berarti mengadopsi kegilaannya akan menjadi modal berharga untuk mengangkat ide atau gagasan yang keren menjadi diterima banyak orang.

Ada benang merah menarik dari perjalanan Shiver. Awal mula ide besar datang pada tahun 1962 saat panggilan telepon dari seorang ibu frustrasi yang tidak dapat menemukan perkemahan musim panas untuk anaknya yang disabilitas intelektual. Shriver, saat itu sudah menjadi advokat terkemuka untuk hak-hak penyandang disabilitas intelektual. Secara spontan, Shriver mengusulkan solusi: “Anda datang ke sini sebulan dari hari ini. Saya akan mengkarantina anak Anda sendiri.” Area karantina dibuat di lahan seluas 200 hektar, berwujud arena olahraga, yang kemudian dikenal sebagai “Camp Shriver.”

Pada saat itu, kepedulian terhadap disabilitas intelektual dianggap tidak berkontribusi besar pada ranah politik. Senator John F. Kennedy sendiri, pada awalnya tidak mendukung. Tidak ada dalam agenda politiknya sebagai calon presiden. Tetapi Shriver meyakinkan saudaranya tersebut, bahwa ketika dia menjadi presiden, mendukung disablitas intelektual akan sesuai dengan nilai-nilai dan pendiriannya tentang hak-hak sipil. Selain itu akan menjadi kesempatan menjadi tonggak sejarah pada masalah ini. Alhasil, berhasil. John F. Kennedy menanggapinya dengan menjadikan masalah tersebut sebagai prioritas nasional dan membentuk gugus tugas para ahli untuk merekomendasikan perubahan.

Shriver menggunakan pengaruhnya dengan presiden untuk membuat dirinya ditunjuk ke gugus tugas yang dipimpin oleh pendidik terkemuka Leonard Mayo. Meskipun hanya “konsultan” untuk panel ilmuwan, dokter, dan spesialis pendidikan terkemuka, dia membantu menengahi perselisihan antar pihak dan menjaga para pihak tetap pada jalurnya. Pemahamannya tentang bagaimana bekerja di pemerintahan, dan kemampuannya untuk menavigasi antara faksi-faksi yang berbeda dari kekuatan yang ada dengan cepat membuatnya sangat diperlukan.

Shriver menyalurkan kemarahannya pada perlakuan orang-orang disabilitas intelektual menjadi kemarahan produktif. Ada bukti bahwa emosi negatif seperti kemarahan dan frustrasi dapat membantu mendorong kreativitas. Tetapi untuk mengejar inovasi radikal, harus menjadi benar-benar apa yang oleh David Gram, mantan kepala usaha di LEGO, disebut sebagai “pemberontak diplomatik”.

Intinya, untuk menyalurkan ide yang baru, tetap harus menyeimbangkan nilai yang ada dengan merangkul perspektif yang berbeda, membangun harmonisasi dengannya yang kemudian dapat menjadi kekuatan dalam bentuk dukungan terhadap terwujudnya ide. Itu artinya akan ada timbal balik, menekankan kontinuitas dan menciptakan narasi yang dapat menarik pihak lain yang dapat memberi kredibilitas, sumber daya, dan dorongan yang dibutuhkan untuk berhasil. Untuk menjadi pemberontak diplomatik, harus memahami dinamika ekosistem dan aturan, baik tertulis dan tidak tertulis.

Jangan Berasumsi ‘Ide Anda Pasti Benar’


Keyakinan yang berlebihan pada kekuatan ide sendiri adalah masalah umum bagi para inovator. Tetapi nyatanya memang banyak inovator mengharapkan gagasannya berhasil dengan kemampuan sendiri. Setelah berjuang untuk membuat prototipe atau percontohan yang beresonansi dengan pengguna, berasumsi bahwa mitra dan calon pengguna akan kagum dengan keunggulan penawarannya, yang sebetulnya baru sebatas angan-angan. Mengesampingkan komunikasi atas ide sendiri untuk meyakinkan orang lain tentang manfaatnya. Sangat yakin dan terlalu percaya diri bahwa terobosannya akan disukai oleh mitra dan calon pengguna.

Shriver, tentu saja, tahu bagaimana menggunakan selebritas dan koneksinya untuk memobilisasi politisi, reporter, dan opini publik. Misalnya, dia mengundang pers ke “Camp Shriver” pertama untuk menyaksikan eksperimen sosial dan memberinya stimulus minat dengan melompat ke kolam sendiri untuk memberikan pelajaran berenang kepada anak-anak. Beberapa bulan kemudian, untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, dia menulis artikel empat halaman untuk “The Saturday Evening Post” dengan persetujuan John F. Kennedy, mengungkap rahasia keluarga yang telah lama dipegang tentang nasib saudara perempuannya, Rosemary.

Pilihan Shriver dari majalah keluarga yang banyak dibaca dan populer dirancang untuk memiliki dampak maksimal dan dia menjalankan proyek seperti kampanye. “Eunice… bertekad untuk menjatuhkan semua pesaing dalam hal mendapatkan dana pemerintah.

Dia sepenuhnya memahami bagaimana kisah saudara perempuannya dapat memberikan pengungkit untuk menarik perhatian pembaca dan memunculkan ketidakadilan yang tersembunyi. Dia secara intuitif memahami bagaimana menganalisis kebutuhan mitra atau calon pengguna untuk membangun kepercayaan dan mempromosikan tujuan yang lebih luas.

Seperti yang dimaksudkan, artikel itu menyentuh hati para pembaca dan menciptakan perubahan besar dalam sikap masyarakat terhadap penyandang disabilitas intelektual. Bobot opini publik juga menetralkan oposisi politik terhadap pendanaan tambahan. Pada saat yang sama, artikel tersebut mengingatkan keluarga tentang inisiatif “Camp Shriver”, yang mendesak program akar rumput serupa di komunitas lain. Dalam setahun, gelombang kamp musim panas paralel bermunculan di seluruh AS (banyak di antaranya disubsidi oleh Kennedy Foundation).

Membesarkan Inovasi yang Sukses tidak Berarti Kloning


Membesarkan inovasi yang sukses (merubah skala) berarti lebih dari sekadar mereplikasi konsep yang telah terbukti. Tentu saja, replikasi itu penting. Ide Shriver awalnya tumbuh dari satu “pilot” menjadi proyek nasional multi-simpul, dan bisa dibayangkan telah tumbuh menjadi gerakan internasional. Tetapi jika itu hanya sekedar replikasi, akan tetap menjadi solusi lokal untuk orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan Shriver akan kehilangan misinya yang lebih besar, yaitu untuk meningkatkan inklusivitas dan empati publik bagi penyandang disabilitas intelektual, membawa mereka ke arus utama kehidupan Amerika.

Terkadang perlu mengubah skala. Asumsi bahwa saat awal berinovasi dan kemudian menskalakan dapat menyesatkan karena penskalaan juga membutuhkan kecerdikan dan pemikiran kreatif. Penskalaan inovasi adalah tentang mengubah solusi, untuk tumbuh dan memiliki dampak yang lebih besar.

Bagi Shriver, poros besar datang pada akhir 1967, ketika dia menerima permintaan pendanaan dari seorang guru olahraga muda Chicago, Anne McGlone. Dia mengajar anak-anak disabilitas intelektual dan mengusulkan untuk mengatur pertemuan trek di seluruh kota untuk mereka. Shriver menyadari bahwa gerakan tersebut memiliki kesempatan untuk beralih dari beberapa kubu, yang didorong oleh Kennedy Foundation, ke sesuatu yang lebih besar dan berbeda. Dia mengusulkan acara visibilitas yang jauh lebih tinggi untuk anak-anak dari seluruh negeri.

Pada bulan Maret 1968, Shriver mengejutkan semua orang pada konferensi pers dengan menyebutnya “Olimpiade Khusus,” setelah menggunakan pengaruhnya untuk mengamankan akses ke merek “Olimpiade” yang berharga. Untuk acara itu sendiri, dia meyakinkan tokoh olahraga seperti juara Olimpiade Jesse Owens dan Rafer Johnson untuk melatih anak-anak dan mendorong liputan media, dan dia membuat pidato pembukaan di stadion olahraga legendaris Chicago di Soldier Field.

Meski hanya menarik beberapa ratus penonton, acara tersebut mempertemukan 1.000 atlet dari 26 negara bagian. Tetapi untuk edisi kedua pada tahun 1972, Shriver meyakinkan Wide World of Sports ABC untuk menyiarkan pertandingan tersebut. Gerakan ini telah berkembang menjadi acara di seluruh dunia, terakhir diadakan di Abu Dhabi pada 2019, dengan peserta dari 190 negara.

Tidak Hanya Mengikuti Trend


Keberhasilan inovasi melampaui kesesuaian produk-pasar adalah sejauh mana solusi yang ditawarkan memenuhi kebutuhan pelanggan, lebih baik daripada alternatif yang ada. Tetapi sementara mencapai kecocokan itu sering disajikan sebagai sinyal untuk membuatnya lebih besar, itu hanya bagian dari keputusan penskalaan.

Untuk satu hal, mengikuti trend produk mendorong pola pikir “memuaskan”. Menyelesaikan sebelum waktunya pada solusi yang cukup baik alih-alih menjelajahi jalur yang dapat menghasilkan dampak potensial yang lebih besar. Misalnya, Jeff Bezos awalnya mempertimbangkan untuk membangun bisnis online-nya seputar perlengkapan kantor, pakaian, atau video karena ada kesesuaian pasar produk untuk masing-masingnya. Dia bisa saja mengejar kategori pertama yang memenuhi kriteria ini. Tetapi analisis yang lebih dalam terhadap 20 kategori produk potensial mengungkapkan bahwa buku sejauh ini adalah yang paling menjanjikan (dan diragukan bahwa yang lain akan berkembang dengan cara yang sama). Kesesuaian pasar atas produk memberikan indikator yang berguna, tetapi jika dijadikan sebagai tujuan, ini dapat membuat kehilangan peluang yang jauh lebih besar.

Selain itu, pendekatan seperti itu cenderung mengabaikan pemangku kepentingan selain pelanggan yang dapat membuat atau menghancurkan solusi, termasuk pemangku kepentingan di dalam tim sendiri. Banyak solusi inovatif dibatalkan oleh kegagalan pencetusnya untuk mengambil tindakan penuh terhadap kemungkinan resistensi internal. Organisasi besar yang mapan memiliki “sistem kekebalan” yang dapat mengusir inovasi radikal dan aktivitas kewirausahaan.
Akibatnya, solusi yang “sempurna” bagi pengguna tidak dapat mencapai potensi penuhnya jika mengabaikan tuntutan pemangku kepentingan yang lebih luas. Hal ini terutama berlaku untuk inovasi sosial, di mana ekosistemnya cenderung lebih kompleks, dengan banyak pemain dan kepentingan yang saling bertentangan.

Shriver sudah memiliki pengetahuan yang mendalam tentang medan. Dia telah mengunjungi lembaga-lembaga di seluruh AS, termasuk “lubang ular” yang terkenal buruk bagi para penyandang disabilitas yang paling parah. Dia telah berbicara dengan keluarga, pendidik, peneliti, dan politisi. Dia mengerti sistemnya. Dia pertama kali menghubungi sekolah dan klinik di daerahnya untuk memberikan nama anak berkebutuhan khusus yang mungkin tertarik, dan untuk meminta pembebasan anak-anak itu ke dalam perawatannya, sambil menunggu izin orang tua. Perkemahan olahraga musim panas yang dia usulkan di tanah miliknya memiliki kesesuaian produk-pasar yang jelas. Keluarga sangat senang membiarkan anak-anak mereka berolahraga, termasuk berlari, berenang, sepak bola, dan menunggang kuda. Prospek program rekreasi khusus langsung menarik bagi orang tua dan anak-anak itu sendiri.

Shriver dapat dengan mudah memuaskan dirinya dengan mengundang beberapa anak disabilitas intelektual dari keluarga kelas menengah dan sekelompok sukarelawan perguruan tinggi untuk mengawasi kegiatan mereka. Semua orang akan menghargai kesempatan ini. Namun hasratnya terhadap keadilan sosial membuatnya melihat melampaui kesesuaian produk-pasar dan menemukan cara untuk memanfaatkan potensi simbolis yang lebih besar dari acara ini.

Shriver memilih untuk menggunakan kesempatan itu untuk mempromosikan keyakinannya yang mendalam pada kekuatan transformatif dan pemersatu olahraga. Kamp itu gratis. Dan untuk memastikan konseling individu bagi para peserta, Shriver merekrut anak-anak dari panti asuhan setempat, untuk bekerja bersama para sukarelawan sekolah menengah dan anak-anaknya sendiri.

Itu adalah pendekatan yang biasanya tidak konvensional—inklusif dalam arti luas—dan semua orang memperoleh pengalaman itu.